Home Profile Konsultasi Event Operasi Testimonial Download Gallery Hubungi Kami
Patah Tulang Spine ( Tulang Belakang ) Arthroplasty / Arthroscopy Hand / Kecelakaan Kerja Degeneratif Pediatri orthopaedi
 
PRAKTEK

 

RS.Puri Indah
Kembangan Selatan, Jakarta Barat Indonesia
Tel: +62-21 25695200 ext 2250
Jadwal Praktek
Senin : 11.00 - 13.00
Rabu : 17.00 - 20.00
Jumat : 14.00 - 16.00

Rumah Sakit Bina Husada
Jalan Mayor Oking Jayaatmaja Km. 1 no. 101
Cibinong, Bogor
Tel: +62-21 8753422   +62218758441
Jadwal Praktek
Senin : 17.00 - 20.00
Rabu : 08.00 - 10.00
Kamis : 08.00- 10.00
Sabtu : 08.00 - 10.00

Atau Hubungi Langsung ke +628159197373

Email : w_widiharso@yahoo.com

Rumah Mulia Pajajaran

Jalan Raya Pajajaran, No.98, Kelurahan Bantar Jati, Kecamatan Bogor  Utara
Tel : 0251 8378 898 / 8378800

(deket dealer ford bogor)

Jadwal Praktek :

Senin  : 08.00 - 10.00

Selasa : 16.00 - 18.00

Kamis : 18.00 - 20.00

Sabtu : 12.00 - 14.00



 
TESTIMONI

TERIMA KASIH DR. WAHYU, PENDERITAANKU BERAKHIR

Allhamdulilah Allah telah memberikan mukjijat melalui tangan DR WAHYU EKO W sehingga penderitaan saya atas HNP yg sudah mematikan rasa dibagian pinggang hingga kedua kaki saya bisa diatasi dan saya merasa lebih nyaman untuk berjalan, hanya dengan sayatan kecil dan mondok 3 hari di rs,saya sudah boleh pulang,trimakasih Tuhan atas pertolonganmu, dan kiranya Allah selalu memberikan kemudahan bagi DR WAHYU EKO W untuk menyelamatkan manusia,amin. (Yogyakarta)

ISKANDAR ZULKARNAEN - 2010-02-04

dokter bedah tulang di jakarta
dokter bedah tulang di bekasi
dokter bedah tulang di bandung
dokter bedah tulang di semarang
dokter bedah tulang di surabaya
dokter bedah tulang di bali
dokter bedah tulang di NTT
dokter bedah tulang di NTB
dokter bedah tulang di maluku
dokter bedah tulang di sulawesi
dokter bedah tulang di makasar
dokter bedah tulang di lampung
dokter bedah tulang di palembang
dokter bedah tulang di medan
dokter bedah tulang di indonesia
dokter bedah tulang di pekanbaru
dokter bedah tulang di bengkulu
dokter bedah tulang di jambi
dokter bedah tulang di malang
dokter bedah tulang di yogyakarta
dokter bedah tulang di manado
dokter bedah tulang di batam
dokter bedah tulang di banten
dokter bedah tulang di cirebon


 
ARTIKEL
HERNIA NUKLEUS PULPOSUS - 2011-02-03

HERNIASI DISKUS VERTEBRA LUMBAL

 

Etiologi dan patologi

Diskusi intervertebralis merupakan jaringan yang terletak antara kedua tulang vertebra, dilingkari oleh anulus fibrosus yang terdiri atas jaringan konsentrik dari fibrokartilago dimana di dalamnya terdapat substansi setengah cair Nukleus pulposus terdiri dari jaringan kolagen yang hiperhidrasi dengan protein polisakarida yang tidak mempunyai saraf sensoris. Herniasi terjadi oleh karena adanya degenerasi atau trauma pada anulus fibrosus yang menyebabkan protrusi dari nukleus pulposus. Herniasi bisa terjadi pada daerah kostolateral yang menyebabkan ligamentum longitudinal posterior tergeser dan menekan akar saraf yang keluar sehingga menimbulkan gejala skiatika. Herniasi dapat juga ke arah posterior yang hanya menyebabkan gejala nyeri punggung bawah. Melalui lempeng tulang korpus vertebra membentuk nodus Schmorl.

 

Gambaran klinis

Herniasi diskus vertebra lumbalis biasanya menyebabkan nyeri punggung bawah dengan atau tanpa disertai skiatika atau mungkin hanya berupa nyeri punggung bawah yang bersifat kronik dengan skiatika dimana nyeri menjalar mulai dari punggung bawah ke bokong sampai ke tungkai bawah.

 

Gejala klinis yang dapat ditemukan berupa:

1.       Nyeri punggung bawah yang hebat, mendadak, menetap beberapa jam sampai beberapa minggu secara perlahan-lahan

2.       Skiatika berupa rasa nyeri hebat pada satu atau dua tungkai sesuai dengan distribusi akar saraf dan menjadi hebat bila batuk, bersin atau membungkuk

3.       Parestesia yang hebat dapat disertai dengan skiatika sesuai dengan distribusi saraf dan mungkin  terjadi sesudah gejala nyeri saraf menurun

4.       Deformitas berupa hilangnya lordosis lumbal atau skoliosis oleh karena spasme otot lumbal yang hebat

5.       Mobilitas gerakan tulang belakang berkurang. Pada stadium akut gerakan pada bagian lumbal sangat terbatas, kemudian muncul nyeri pada saat ekstensi tulang belakang.

6.       Nyeri tekan pada daerah herniasi dan pada daerah paravertebral atau bokong.

7.      Uji menurun Laseque atau uji Straight-Leg Raising (SLR). Tes ini akan menunjukkan derajat terbatasnya dan besarnya tekanan pada akar saraf. Dinyatakan positif kiri atau kanan sesuai dengan tingkat keterbatasan tes ini (gambar 3).

8.       Tes tegangan saraf femoral. Pada herniasi diskus vertebra L3/4, fleksi pada sendi lutut secara pasif dalam posisi telungkup akan menyebabkan nyeri pada paha bagian depan.

9.       Gejala neurologis pada tungkai, berupa kelemahan otot, perubahan refleks dan perubahan sensoris yang mengenai akar saraf (tabel 1)

 

 

 

 

 

Tabel 1. Gejala neurologis herniasi diskusvertebra lumbal

 

Akar saraf 

Kelemahan otot 

Perubahan refleks

Perubahan sensoris

L 2

  Fleksi sendi panggul

Tidak ada/penurunan

gerakan lutut

Paha bagian lateral

L 3

-     Fleksi panggul

-     Ekstensi lutut

Penurunan gerakan lutut

Paha bagian medial

L 4

Inversi dan dorso

fleksi kaki

Penurunan gerakan lutut

Tungkai bawah bagian medial

L 5

-     Dorso fleksi ibu jari  Kaki

-     Eversi kaki

Penurunan atau tidak ada

gerakan pergelangan kaki

-     Tungkai bawah bagian lateral

-     Dorsum kaki dan ibu jari kaki

S 1

-     Plantar fleksi kaki

-     Eversi kaki

Penurunan gerakan

pergelangan kaki

Tungkai bawah bagian lateral        dan telapak kaki

 

 

 

 

 

 

Insidens

Herniasi Bering ditemukan pada daerah antara L5S1 dan L45. Kelainan ini umumnya terjadi pada penderita umur 20-45 tahun.

 

Diagnosis

Pemeriksaan pada penderita dengan kecurigaan adanya herniasi diskus berupa:

1.       Pemeriksaan klink

Pada punggung, tungkai dan abdomen. Pemeriksaan rektal dan vaginal untuk menyingkirkan kelainan pada pelvis.

2.       Pemeriksaan radiologis

Pemeriksaan radiologis yang dapat dilakukan adalah:

-          Foto polos

-          Foto polos posisi AP dan lateral dari vertebra lumbal dan panggul (sendi sakro-iliaka), Foto polos bertujuan untuk melihat adanya penyempitan diskus, penyakit degeneratif, kelainan bawaan dan vertebra yang tidak stabil (spondilolistesis).

-          Pemakaian kontras

Foto rontgen dengan memakai zat kontras terutama pada pemeriksaan mielografi khususnya radikulografi, diskografi serta kadang-kadang diperlukan venografi spinal.

-          MRI

Merupakan pemeriksaan non-invasif, dapat memberikan gambaran secara seksional pada lapisan melintang dan longitudinal. Pada saat ini MRI merupakan pemeriksaan pilihan

-          Scanningtulang

Scanning tulang dilakukan dengan menggunakan bahan radioisotop (SR dan F). Pemeriksaan  ini terutama untuk menyingkirkan kelainan seperti penyakit Paget.

3. Pemerikaan laboratorium

-          Pemeriksaan urin untuk menyingkirkan kelainan-kelainan pada saluran kencing

-          Pemeriksaan darah yaitu laju endap darah dan hitung diferensial untuk menyingkirkan tumor gangs, infeksi dan penyakit reumatik

 

 

Pengobatan

Tindakan pengobatan yang dapat diberikan tergantung dari keadaan, yaitu:

 

1. Pengobatan konservatif pada lesi diskus akut

-          Istirahat sempurna di tempat tidur, 1-2 minggu dengan pemberian analgetik yang cukup

-          Kadang-kadang diperlukan obat-obatan untuk mencegah spasme, pemanasan lokal atau anestesia lokal paravertebra

-          Penderita tidur pada alas yang keras

-          Pada saat ini tidak diperbolehkan latihan sama sekali, bila penderita dirawat dapat di anjurkan untuk menggunakan traksi

-          Pada fase akut dapat diberikan jaket plaster dari politen selama 23 minggu

-          Injeksi epidural dengan 0,5% prokain dalam 50 cc NaCI fisiologis

-          Dapat dimulai latihan lumbal secara hati-hati apabila fase akut berakhir setelah 23 minggu

 

 

 

2. Pengobatan konservatif pada fase subakut dan kronik

-          Fisioterapi

-          Lathan fleksi dan ekstensi tulang belakang yang mungkin didahului dengan diatrermi gelombang pendek

-          Mobilisasi penderita dapat dilakukan dengan manipulasi yang hati-hati tanpa anestesi

-          Instruksi untuk mempergunakan posisi yang benar dan disiplin terhadap gerakan     punggung yaitu membungkuk dan mengangkat barang

-          Pemakaian alat bantu lumbo-sakral berupa korset dan penyangga

-          Traksi lumbal yang bersifat intermiten

-           

3.       Tindakan operatif dilakukan pada keadaan-keadaan berikut:

-          Kelainan pada kauda ekuina disertai dengan kelemahan yang hebat, bersifat bilateral, gangguan dan kelemahan pada sfingter usus dan kandng kemih

-          adanya analgesia pelana pada bokong dan daerah perineal

kelemahan otot yang progresif oleh karena tekanan pada akar saraf atau adanya tanda-tanda­ atrofi pada otot yang dipersarafi

-          Adanya skiatika yang menetap dengan gejala neurologic, tidak menghilang dengan terapi konservatif dan waktu patokan biasanya 6 minggu

-          Adanya lesi yang hebat disertai kelainan bawaan atau spondilolistesis yang hebat. Cara operasi dapat dilakukan secara terbuka tetapi akhir-akhir ini operasi pada herniasi diskus dilakukan secara tertutup dengan mempergunakan alat dan teropong.

 

 


KONSULTASI

Nama Pasien
Email Pasien
Pertanyaan
 

Dokter bedah tulang | bedah tulang | dukun patah tulang | dokter bedah ortopedi | ahli bedah tulang | bedah tulang belakang | bedah syaraf tulang belakang | spine


Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net